14 Mei 2008

Raden Ajeng Kartini

Setiap bulan April kita selalu merayakan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini. Kartini adalah seorang pahlawan yang telah memperjuangkan hak-hak bagi para wanita Indonesia. Ketika dia lahir dan besar, wanita di Indonesia atau tepatnya di daerah Jawa, memang belum mendapat akses pendidikan dan pekerjaan seperti di jaman sekarang ini.

Kartini lahir 21 April 1879 di Desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya adalah RM Adipati Ario Sosrodiningrat, seorang Asisten Wedana dari distrik Mayong, Kabupaten Jepara. Sebagai seorang pejabat daerah pada masa itu, Adipati Ario memiliki banyak selir, yang salah satunya adalah ibunda Kartini. Sebagai anak seorang selir, sedari kecil Kartini sudah merasakan adanya diskriminasi atau perbedaan perlakuan lingkungan sekitar terhadap dirinya.

Suratnya kepada Ny HG de Booij-Boissevain menunjukkan diskriminasi yang dia dapat ketika bayi. Ibunya harus bersaing dengan istri utama ayahnya, yang memang masih keturunan Ratu Madura. Sejak bayi dia sudah merasakan kehidupan yang beda antara gedung utama dan rumah kecilnya. Sebagai anak dari selir, Kartini lahir di rumah kecil, berada di bagian belakang rumah Asisten Wedana itu.

Diskriminasi juga didapatnya ketika Kartini bersekolah. Melalui suratnya kepada Estelle Zeehandellar, Kartini menceritakan perlakuan guru-gurunya yang sangat merendahkan kemampuan wanita pribumi.

"Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menentang kami. Aduhai! Betapa banyaknya dukacita dahulu semasa kanak-kanak di sekolah; para guru dan banyak di antara kawan mengambil sikap permusuhan kepada kami..."

Merasa tertekan dengan perlakuan tersebut, Kartini bertekad untuk maju melalui pendidikan. Namun sayangya, keinginannya tersebut terbentur dengan budaya keluarga yang masih sangat ketat. Kartini harus rela melepaskan cita-citanya untuk meneruskan sekolah ke HBS, yang merupakan sekolah bergengsi. Begitu juga dengan tawaran dari seorang gurunya untuk sekolah ke negeri Belanda, terpaksa dia tolak karena ayahanda tidak memberi ijin.

Namun, cita-cita Kartini untuk memperjuangkan hak bangsa pribumi, terutama kaum wanitanya, untuk mendapat akses pendidikan tidak pernah surut. Gagal melanjutkan sekolah, Kartini kemudian aktif mengikuti perjuangan dengan memberi pengajaran kepada anak-anak pribumi.

Kecintaannya yang besar pada sang ayah membuat Kartini tidak kuasa menolak ketika dia diharuskan untuk menikah dengan Bupati Rembang dan menjadi seorang selir, seperti yang dialami ibunya. Kartini merasa sedih namun dia tidak dapat memberontak kuasa ayah dan juga lingkungannya. Akhirnya setelah sekian lama berjuang dalam penderitaan, Kartini meninggal dunia setelah kelahiran putra pertama.

- Dirangkum dari berbagai sumber

Tidak ada komentar: